Sok Sbux

Sebetulnya agak menyebalkan bahwa aku lebih sering menulis tentang SBUX dibandingkan tentang TLK. Tapi ini negara bebas, bukan negeri Malays atau negeri IPDN, jadi kita bebas berpikir dengan otak kita sendiri dan menulis sesuai minat masing2. (Maaf buat rekan2 dari Malays yang kita yakin sebagian besar tak bersesuaian pendapat dengan pemerintahan saat ini. Tapi aku pikir tak perlu minta maaf kepada rekan2 dari IPDN, karena aku yakin mereka tidak tahu apa itu Internet atau blogging — tidak sampai seluruh institusi pendidikan diganti dengan yang tidak memungkinkan mahasiswa berotak sembab lagi).

OK. Sok Sbux. Sebelum Sbux menyerang Indonesia, sesekali aku bisa punya akses ke kopi2 tanah air yang luar biasa ini: Kopi Gayo, Kopi Medan, Kopi Lampung, Kopi Jawa, Kopi Bali, Kopi Toraja, Kopi Flores. Tapi tentu, setelah Sbux, aku bisa merasakan the peak taste dari kopi2 istimewa itu. Maklum, ini negeri masih perlu devisa, jadi kopi terbaik harus diekspor; dan untuk menikmatinya, kita harus jadi penjahat yang melakukan import kembali. Mahal? Tentu. Sok Sbux berarti juga sok borju, sok doyan kopi mahal. Padahal, seperti yang aku tulis di weblog tetangga, Sbux lebih bersuasana persahabatan daripada bersuasana perniagaan kopi. Kopi mahal ada. Tapi kopi gratis pun tak jarang. Kadang satu shot espresso, kadang kopi pilihan kita sendiri satu gelas besar — tetap gratis.

Di negeri lain, Sbux mengalami hal yang sama dengan di sini: antara disukai karena citarasa persahabatannya, dengan dibenci karena aroma kapitalisme internasionalnya. Di Paris, aku pernah tulis, entah di weblog yang mana, bahwa kafe Sbux sungguh terbatas jumlahnya. Di negeri sejuta kafe itu, mungkin para pribumi berpikir: apa enaknya masuk kafe bersuasana asing? Bukan berarti tidak ada sama sekali sih. Business Week minggu ini mendisplay salah satu kafe semacam itu.

sbux-paris.jpg

Selainnya suka masuk ke majalah, Sbux juga tersesat ke sebuah buku. Judulnya: The Starbucks Experience – 5 Principles for Turning Ordinary into Extraordinary. Penulisnya Joseph Michelli. Pertama tampak bukan di Amazon, tapi waktu jalan2 ke Borders, bulan November lalu. Berminat sih, tapi keburu sudah ada setumpuk buku di keranjang. Urung :).

Tapi syukurnya, kelihatannya Erlangga berminat menerbitkan terjemahan buku ini. Icon buku ini sudah dipasang di site Erlangga. Tapi sayangnya dia dilink bukan ke warta tentang rencana penerbitan terjemahan buku ini. Melainkan ke resensi versi Inggris dari buku ini.

buku-starbucks.jpg

Dan omong2, aku baru ditawari Kopi Papua. Kira2 kayak apa ya rasanya?

4 Responses to this post.

  1. di hamburg juga sekarang banyak bermunculan starbucks mas…

    Reply

  2. Nice blog!

    Reply

  3. Nah.. Saya suka tulisan ini, mas kun udah bisa sebut kopi gayo (sebelumnya sering sebut kopi aceh), tapi ada masalah baru kenapa sebut kopi medan? dimedan kan ga ada kebun kopi. tapi ga apa. mungkin yang dimaksud mas kun itu kopi sidikalang!

    Mas, kalo ga kita, siapa lagi yang mau promosiin kopi sendiri, tentu dengan nama kopi yang sesuai dimana tempatnya dibudidayakan.

    Reply

  4. @Agus: Undang donk ke Hamburg.
    @Livette: Elo orang apa spamming bot?
    @Noeroel: Nanti aku undang jadi penulis tamu di kun.co.ro deh, khusus cerita Kopi Gayo.

    Reply

Respond to this post