Dulu aku lumayan keras dengan tata bahasa. Apalagi waktu akhirnya jadi redaksi mading sekolah. Aku waktu itu mencoba menunjukkan bahwa kita tetap bisa berbahasa lincah, kreatif, sambil tetap santun dan tertata. Lucunya, seiring waktu, aku malah jadi suka bereksperimen yang aneh2, termasuk menggunakan angka 2 secara konsisten untuk menggantikan kata ulang. Atau akhir2 ini menggunakan secara secara salah tapi konsisten (konsisten salah: dilarang menggunakan kata secara secara benar). Yang suka aku eksperimeni juga memainkan akhiran kan dan i secara bergantian untuk membentuk nuansa arti. Menggunakan pun di tempat yang aneh. Bermain dengan titik dua dan tanda pisah untuk menyusun konteks. Dan yang akhir2 ini sangat sering adalah memisah frasa2 panjang dengan titik, bukan koma. Tulisan jadi bahasa lisan yang ditulis :). Oh ya, smiley juga aku jadikan tanda baca. Misalnya, akhir paragraf yang berisi smiley tidak perlu dititiki lagi :p –> Jangan ditiru ya.
Tapi kembali ke tata bahasa yang benar. Aku tidak akan menganggap kita yang sudah terdidik untuk sampai bisa membaca blog ini kurang belajar tata bahasa. Tetapi kadang kita mudah khilaf akibat interaksi dengan bahasa lain. Tanda petik, misalnya. Untuk bahasa Indonesia, tanda petik buka dan tanda petik tutup menggunakan tanda yang sama (“). Sedangkan untuk bahasa Inggris, tanda petik buka (“) itu membuka dan tanda petik tutup (”) itu menutup. Tentu saja kita tidak jadi harus menyamakan. Juga ada aturan tersendiri dalam bahasa Perancis ( « dan » ) dan Jerman („ dan ”). Di bahasa Indonesia dan Inggris, tanda tanya tak dipisahkan spasi dengan kata di depannya. Di bahasa Perancis, harus ada spasi sebelum tanda tanya. Spanyol klasik malah menggunakan tanda tanya pembuka (¿) dan penutup (?). Ada perbedaan juga antara bahasa Indonesia dan Inggris untuk menulis daftar. Inggris: anu, banu, canu dan danu. Indonesia: anu, banu, canu, dan danu. Ada koma tambahan untuk Bahasa Indonesia.
Dan satu lagi yang bukan tata bahasa. Dari zaman belajar membaca, aku membaa bahwa kalender bapakku memiliki nama bulan November dan Februari. Baru waktu aku agak besar, aku melihat nama bulan Pebruari dan Nopember. Tentu aku konsisten untuk memakai yang pertama aku kenal. Cukup banyak ditentang, waktu aku jadi redaksi. Anggota redaksi lain berkeras bahwa nama bulan yang ‘benar’ adalah Pebruari dan Nopember. Sayangnya waktu itu kami belum punya acuan. Surat kabar dan buku2 di Indonesia tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi acuan yang mendidik, selain belaka mencerminkan yang ada di masyarakat. Tapi beruntunglah, sekarang kita punya Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jadi sekarang kita punya pijakan. Saudara2: November dan Februari.








Posted by dian on October 25, 2007 at 8:25 pm
“Pebruari”? Tidaaakkk…. (ih, ini box pasti sudah di set ke dalam tata bahasa Indonesia, secara aku ngga bisa pakai tanda kutip pembuka di bawah dan penutup di atas :) )
Posted by Abe Poetra on October 25, 2007 at 9:52 pm
Aha, kita tunggu cak Amal atau Kang Jae komeng disini.
^_^
Posted by November - Februari « KencHOT on October 26, 2007 at 1:41 pm
[...] eksperimeni juga memainkan akhiran kan dan i secara bergantian untuk membentuk nuansa arti … Baca entri selengkapnya – [...]
Posted by avianto on December 2, 2008 at 12:41 pm
Selama itu bukan Pespa dan Panta, saya sih ikut saja ;)