Di pintu tol Cawang, kemacetan terlalu panjang sore itu, di hari2 akhir Ramadhan lalu. Buku, aku nggak pegang. Ini xTrans, bukan Kereta Api. Berinternet lagi, cukup bosan (haha). Trus terpikir: melakukan pembunuhan ah. Maka aku menelepon Standard Chartered Bank (SCB), untuk mengajukan permintaan terminasi MasterCard punyaku. Tak mudah: harus melakukan panggilan ulang beberapa kali. Tapi toh macet tak mereda. Dan aku nggak punya pekerjaan lain. Jadi aku terus menelepon ulang. Akhirnya ada sambutan. Lady di ujung sana ramah nian. Dan dengan tak kalah ramahnya aku mengajukan permintaan deaktivasi permanen si kartu. Dengan santun dan beradab, proses pembunuhan dapat terselesaikan dengan baik. Waktu macet ini akhirnya jadi tak sia2.
Kartu SCB ini sudah bertahun tak digunakan. Dia belum mati hanya karena pihak SCB memintaku terus memperpanjang tanpa biaya tahunan. Tapi akhirnya toh aku harus tega, biarpun SCB sekali lagi menawarkan perpanjangan gratis. Hmm, kartunya masih bagus. Belum pernah dipakai sejak diganti beberapa tahun lalu.
Nah, sialnya, kartu2ku yang lain ternyata rusak. Salah simpan, mengakibatkan terjadi patahan fatal pada bidang magnet, pada tiga kartu. Duh. Tiga kartu. Jadi sebelum dan sepanjang libur lebaran, aku mencicil meneleponi bank2 untuk meminta penggantian kartu. Setelah libur lebaran, satu per satu kartu itu datang; baik datang sendiri maupun diantar kurir. Jangan tanya. HSBC (yang baru sudah dilengkapi chip), ANZ (dilengkapi chip juga), dan Amex. Aku pikir tinggal Citibank yang nggak perlu diganti. Kartu ini hanya dipakai buat bayar tagihan2 telepon, listrik, Internet, dll. Bukan buat dibawa2. Jadi tak ikut patah. Aku salah. Tak lama, Citibank menelepon. Katanya kartuku kena fraud, dan tidak boleh dipakai. Dalam waktu 24 jam, aku sudah menerima kartu baru. Huh. Beneran baru semua. Empat.
Kenapa sih banyak kartu? Lupa :). Biasanya karena solidaritas sebagai sesama tukang marketing yang sadar bahwa pasar sungguh kejam, sehingga perlu ada aliran simpati tak rasional dengan membiarkan diri didaftarkan jadi customer kartu2 tak jelas ujung pangkalnya itu. Amex misalnya. Di Bandung, amat sangatlah jarang ada merchant yang menerima kartu ajaib dengan identitas 15 angka itu (huh, nggak standard). Aku dulu mau ambil Amex hanya gara2 mereka melakukan co-branding dengan sebuah perusahaan yang punya logo bagus.

Dan seperti weasel lainnya: setelah aku punya kartu itu, program co-branding dihentikan di tahun berikutnya. Trus kartuku diganti dengan kartu lain.

Aku juga heran, kenapa belum aku matikan yang ini :). Oh, selain kartu2 beruang; beberapa kartu juga menyerbu minggu2 ini. IET dan IEEE udah aku pamerkan di blog satunya. Sekarang aku mau pamer yang paling imut: WWF.

Kartu yang ini istimewa karena beberapa alasan. Tapi ini blog, bukan siaran berita. Jadi aku mau cerita yang nggak penting. Pertama, kartu ini diterbitkan oleh Wastu Wibowo Fund (WWF) yang logonya adalah fotoku dalam warna hitam putih. Kedua, pengantarnya ditandatangani Chapter Indonesia dari WWF: Sdr Mubariq Achmad — nama yang tak asing di kalangan ISNET. Ketiga, karena aku belum pakai Mac OS X Leopard, maka gambar Tiger dipasang dalam lingkaran di kartu ini. Dan keempat, mmmm, udah deh ke sini aja: akusayang.com.
Trus aku baru sadar satu hal: Kartu ATM Bank Niaga sudah expired. Harus diganti. Tapi malas ah. Bosan jadi carder dadakan. Biar Bank Niaga jadi wadah Internet banking aja :D. Mudah2an nggak ada yang bercita2 bikin Kartu Blogger Nasional (amit2). Apalagi ditambahi himne/mars/lagu Blogger Indonesia. Nggak maooooooo!!!








Posted by ranti on November 6, 2007 at 6:32 am
Kartu wwf-nya lain banget sama yang aku punya (international). Yang versi ID emang lebih imut… :-)